Aku tak pernah bisa menjadi bukan aku
Walau mentari berputar hingga kumati
Kau hirup udara pagiku
Aku tetap tak bisa terus mencintaimu
Hatimu telah kugenggam
kucoba letakkan diatas kecewa
Tak kuharapkan ia terbang menjauh
Agar dapat kulihat saat terbakar teriknya mentari dimusim panas
Kupejamkan mataku
Kucoba tuk melupakanmu
Tapi aku tak pernah bisa menjadi bukan aku
aku tetap tak bisa terus tak mencintaimu
06 Desember 2008
Rindu Yang Tertinggal
Bis mulai berjalan pelan menerobos gelapnya pagi
Air hujan yang tertahan dari tadi malam mulai berjatuhan
Kaca jendela yang tak bisa kututup
Basahi sebagian tubuhku
Ada rindu yang tertinggal
Berbaris dibalik bukit yang kulalui
Hamparan sawah yang mulai menguning
Tinggalkan Rindu yang semakin tertinggal
Semua kenangan
Takkan pernah kulihat
Hingga ia dan mimpiku ada didepan mata
Air hujan yang tertahan dari tadi malam mulai berjatuhan
Kaca jendela yang tak bisa kututup
Basahi sebagian tubuhku
Ada rindu yang tertinggal
Berbaris dibalik bukit yang kulalui
Hamparan sawah yang mulai menguning
Tinggalkan Rindu yang semakin tertinggal
Semua kenangan
Takkan pernah kulihat
Hingga ia dan mimpiku ada didepan mata
Kesedihan dalam harapan
Ada harap yang tersirat
Ada mimpi yang terperi
Ada rindu yang terbelenggu
Ada harapan dalam kesedihan
Saat langit bersedih
Meneteskan air hujan yang basahi rambutmu
Terlihat kesedihan dikedua bolamatamu
Terucap lirih "Wujudkan mimpimu sebelum kumati"
Ada mimpi yang terperi
Ada rindu yang terbelenggu
Ada harapan dalam kesedihan
Saat langit bersedih
Meneteskan air hujan yang basahi rambutmu
Terlihat kesedihan dikedua bolamatamu
Terucap lirih "Wujudkan mimpimu sebelum kumati"
21 November 2008
Kecewa
Kubuka mata,
Yang nampak hanya kegelapan
Kututup mata,
Duniaku semakin gelap
Kutarik nafas yang sempat tertinggal
Dibawah jendela kamarmu
Dan kuberharap tak menemukannya lagi
Tapi kau mengembalikannya padaku
Apa yang kau harapkan?
Padahal ada damai dalam gelapku
Kau bukan lagi mentari
Yang selalu menerangi pagiku
Yang nampak hanya kegelapan
Kututup mata,
Duniaku semakin gelap
Kutarik nafas yang sempat tertinggal
Dibawah jendela kamarmu
Dan kuberharap tak menemukannya lagi
Tapi kau mengembalikannya padaku
Apa yang kau harapkan?
Padahal ada damai dalam gelapku
Kau bukan lagi mentari
Yang selalu menerangi pagiku
02 November 2008
Mimpi
Saat Jakarta mulai terbangun, jalanan ibukota sudah dipenuhi dengan roda jalanan. Seorang bocah berjalan di ramainya pagi itu, tak beralas kaki. Tak ada yang menemani seperti anak kecil diseberang jalan yang dituntun ibunya dengan seragam sekolah dibadannya, berbeda jauh dengan bocah itu, hanya mentari pagi yang setia menerangi setiap langkahnya.
Tatapannya tajam saat melihat sebuah mobil berhenti disebelahnya, mungkin yang ada diimajinasinya dia coba merasakan duduk didalam mobil itu, aah sepertinya tidak,. anak bocah itu tidak senaif itu saya yakin dia hanya bermimpi seperti anak diseberang jalan sana.
Tatapannya tajam saat melihat sebuah mobil berhenti disebelahnya, mungkin yang ada diimajinasinya dia coba merasakan duduk didalam mobil itu, aah sepertinya tidak,. anak bocah itu tidak senaif itu saya yakin dia hanya bermimpi seperti anak diseberang jalan sana.
Langganan:
Komentar (Atom)